Paradigma Politik Pemuda Indonesia
Hakekat pemuda sesungguhnya adalah sosok manusia yang produktif dan dinamis. Pemuda Indonesia adalah sebuah modal kekuatan inti dalam memainkan peran dan kontribusi terutama dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Isu seputar perilaku sosial politik kepemudaan baik ditinjau dari perspektif kelembagaan kesejarahan maupun pada konteks faktual dan kontemporer tetap menempatkan pemuda sebagai bagian dari substansi perjuangan bangsa. Pemuda sebagai hati nurani sebuah bangsa, adalah suatu fakta historis yang patut dihargai. Di mana peran dan kontrubisu pemuda dalam segala segmentasi pembangunan bangsa Indonesia dari fase ke fase telah terbukti. Setiap zaman selalu melahirkan generasi suatu bangsa yang secara natural memiliki karakter kebudayaan serta resiko tantangan yang berbeda-beda pula.
Sejarah perjuangan bangsa dalam menentukan arah kemerdekaan hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga tidak lepas dari peran dan kontribusi pemuda. Nasionalisme sebagai modal membangun nation and caracter bulding sejak pemimpin revolusi Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta dan para the founding father bangsa lain memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Semangat kebersamaan sebagai anak bangsa yang terjajah oleh kaum Kolonialisme Belanda akhirnya mereka mampu mempersatukan bangsa Indonesia. Hanya dengan semangat nasionalisme kebangsaan para the funding father bisa mempersatukan NKRI terutama dalam masa transisi Republik Indonesia Serikat (RIS) yang masih syarat dengan ancaman kembalinya penjajah ke Indonesia.
Mendefenisikan nasionalisme kebangsaan pemuda dalam transisi kegamangan globalisasi dan modernisasi saat ini tentu tidak semudah yang dirumuskan para pemikir maupun cendikiawan secara teori-retorik. Karena nasionalisme kebangsaan pemuda belakangan terus mengalami erosi. Krisis nasionalisme pemuda terus terjadi di mana-mana. Ancaman disintegrasi bangsa yang cenderung terlegitimasi oleh sistem ekonomi berbasis kapitalisme pun semakin menggejala. Kebijakan kepemimpinan pemuda dalam struktur kepemerintahan saat ini masih menempatkan kekuatan hegemonik para pengendali rezim. Pemuda masih menjadi pemain kedua setelah generasi tua dan muda yang berkolaborasi dalam sistem kekuasaan absolut. Kenyataan demokrasi dengan sistem kekuasaan yang ada saat ini akan memperkuat tesis Lord Acton yang mengatakan, “Power tents to corrupt and absolute power to corrupt absolutely”, kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang kuat pasti korup.
Reformasi sistem kepemimpinan kepemudaan sudah menjadi suatu kebutuhan pemuda Indonesia didalam membuka peluang dan kesempatan guna mampu memainkan peran dan transformasi nilai-nilai politik kebangsaan ke depan. Identitas politik pemuda Indonesia yang kritis, realistis, objektif, rasional, dan proporsional sebagaimana yang diwariskan para the founding father telah terkikis oleh arus globalisasi dan westernisasi. Implikasi yang membahayakan bagi masa depan pemuda dan bangsa ialah disintegrasi bangsa akibat kuatnya transformasi ideologi kapitalisme, liberalisme dan neo-sekularisme melalui sentra-sentra kekuasaan baik pusat maupun daerah.
Beberapa teori artikulatif tentang nasionalisme kebangsaan di atas, maka semangat dasar nasionalisme kebangsaan dalam kerangka ke-Indonesiaan yang ditanamkan the funding father, salah satunya yakni, semangat akan cinta tanah air yang memiliki syarat cita-cita kemanusiaan universal. Dasar nasionalisme ke-Indonesiaan sesungguhnya telah dibentuk melalui momentum Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Karena dalam semangat Sumpah pemuda baik secara eksplisit maupun implisit merekam semangat kebersamaan dalam kemajemukan.
Rekonstruksi Paradigma Politik Pemuda Indonesia; Agenda Transformasi dan Demokratisasi, merupakan suatu keharusan dalam merespon dinamika sosial politik kebangsaan ditengah-tengah krisis multidimensional termasuk krisis tanggungjawab pemuda sebagai agent of change, agent of control, agent of morality, dan lain-lain. Suatu tinjauan atau perspektif yang berbeda dalam membaca dinamika pergerakan pemuda dan merespon berbagai permasalahan bangsa.
Rekam jejak pemikiran politik serta produk-produk kebijakan sosial politik para the funding father dalam memainkan peran dan kontribusi baik pra maupun pasca kekuasaan kemerdekaan Republik Indonesia semata-mata tetapi mampu mengeksplorasi dinamika politik kelembagaan pemuda pada masa transisi kekuasaan Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga era demokratisasi saat ini, serta mampu menjelaskan kegagalan kepemimpinan pemuda ditengah ancaman disintegrasi bangsa akibat kuatnya arus modal kekuasaan dan transformasi kepentingan ideologi asing yang terus merambah di negeri ini. Sehingga kita mampu melakukan identifikasi dan reinventarisasi problematika sosial politik kepemudaan saat ini dan sekaligus mereformulasi gagasan-gagasan baru yang konstruktif dan komprehensif.
Dalam merespon dinamika sosial politik kepemudaan kontemporer ditengah krisis kredebilitasi kepemimpinan pemuda Indonesia. Rekonstruksi; Agenda Transformasi dan Demokratisasi merupakan suatu tinjauan bagi generasi kita sebagai anak bangsa yang memiliki tanggungjawab mempertahankan NKRI.
Lain waktu kita sambung lagi………….wassalam
emang sech ditangan pemudalah dominannya nasib suatu bangsa bisa dirubah…
namun pemuda di era sekarang….
kebanyakan hanya berfikiran pragmatis…
apa yang dapat kalian lakukan tuk bangsa ini….
yang ada hanyah kritikan tanpa da penawaran solusi….
saat ini yang merka pikirkan hanya apa yang dapat mereka ambil dari bangsa ni…
bukan apa yang dapat mereka berikan…..
itu dia yang jadi masalah kronis, karena yang jadi fundamen demokrasi sekarang yang dipertontonkan oleh beberapa orang yang katanya memperjuangkan demokrasi (kata bumi putera dengan istilah:Bangsawan pemikir akan terpinggrikan jika dalam suatu negeri telah muncul dan mengguritanya bangsawan turunan) karena disitu tidak lagi melihat apa yang telah dia buat untuk memperbaiki bangsa atau kontribusi nya bagi negara, namun yang dilihat adalah siapa yang mengangkat/mempromosikan dia, atau lebih simple contoh demokrasi sekarang dilihat dari beberapa partai besar, para bupati, gubernur, dll. dengan mengangkat anak, saudara, ipar, sepupu, abang, adik dan bahkan ayahnya sendiri diajak dan dipaksa untuk lolos jadi anggota DPRD, DPD, DPR RI untuk mengamankan posisi nya yang saat ini sedang berkuasa dan akan meneruskan berkuasa lagi dimasa akan datang. sebagaimana dalam sebuah teori bahwa jauh dalam hati kecil manusia menyimpan kerakusan yang abadi bahwa jika kekuasaan tersebut telah dia dapat akan dia pertahankan sampai mati. dengan adanya hal tersebut maka akan muncul ketidakadilan baik dalam hal demokrasi, akses ekonomi, serta terjadi juga jurang kesenjangan yang semakin tinggi, akibat adanya ketidakjujuran tersebut akhirnya timbullah hegemoni kelompok……….”inilah yang diciptkan oleh globalisasi/anak kandung neoliberalisme/ neo kapitalisme……………..jika tidak berubah, maka tinggal menunggu kehancuran………